Lumajang Perkuat Konservasi Berbasis Ekosistem untuk Pulihkan Lahan Kritis
Lumajang,monitorjatim.com-Upaya pelestarian lingkungan di Kabupaten Lumajang kini diarahkan pada pendekatan yang lebih substansial, tidak lagi sebatas kegiatan seremonial penanaman pohon, tetapi bertransformasi menjadi konservasi berbasis ekosistem yang mampu menyelesaikan akar persoalan lingkungan. Hal ini tercermin dari kiprah Komunitas Pecinta Lingkungan (Kopling) Pronojiwo yang mendapat apresiasi dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lumajang.
Sejak 2017, Kopling Pronojiwo konsisten melakukan pemulihan lahan kritis di wilayah lereng curam Desa Tamanayu dan sekitarnya. Berbeda dengan pola penghijauan konvensional yang seringkali bersifat simbolik, gerakan ini dirancang untuk menjawab persoalan mendasar, yakni degradasi lahan, berkurangnya tutupan vegetasi, serta menurunnya ketersediaan sumber air.
Kepala DLH Kabupaten Lumajang, Hertutik, menegaskan bahwa pendekatan berbasis ekosistem menjadi kunci dalam memastikan keberlanjutan lingkungan, terutama di wilayah dengan kerentanan tinggi terhadap longsor dan kekeringan.
“Yang dibutuhkan saat ini bukan sekadar menanam, tetapi bagaimana penanaman itu mampu memulihkan fungsi lingkungan. Ini yang dilakukan Kopling, sehingga dampaknya nyata,” ujarnya, Senin (4/5/2026).
Pendekatan tersebut menitikberatkan pada pemulihan fungsi ekologis secara menyeluruh, mulai dari penguatan vegetasi di lahan miring, peningkatan daya resap tanah, hingga perlindungan daerah tangkapan air. Dengan cara ini, penanaman tidak berhenti sebagai aktivitas, tetapi menjadi bagian dari sistem pemulihan lingkungan yang terintegrasi.
DLH juga memberikan pendampingan teknis untuk memastikan setiap intervensi sesuai dengan karakteristik lahan. Pemilihan jenis tanaman, pola tanam, hingga perawatan dilakukan secara terencana agar mampu memberikan dampak jangka panjang.
Anggota Kopling, Husain, menjelaskan bahwa gerakan ini lahir dari kondisi nyata di lapangan, ketika lahan mulai kritis dan sumber mata air mengalami penurunan drastis saat musim kemarau.
“Kami tidak hanya menanam, tapi memastikan tanaman itu tumbuh dan memberi manfaat. Sekarang beberapa sumber air yang dulu berkurang sudah mulai kembali,” ungkapnya.
Selain tanaman konservasi, Kopling juga mengembangkan tanaman produktif seperti sukun dan sirsak sebagai bagian dari strategi berkelanjutan. Pendekatan ini tidak hanya memulihkan lingkungan, tetapi juga memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat, sehingga konservasi menjadi bagian dari kebutuhan bersama.
Hingga saat ini, ratusan pohon telah ditanam dan lebih dari sepuluh sumber mata air dilaporkan kembali pulih. Capaian tersebut menunjukkan bahwa konservasi berbasis ekosistem mampu memberikan solusi nyata dibandingkan pendekatan penghijauan yang bersifat sesaat.
DLH menilai model ini sebagai praktik baik yang dapat direplikasi di wilayah lain. Pergeseran pendekatan ini menjadi penting, karena tantangan lingkungan saat ini menuntut solusi yang tidak hanya cepat, tetapi juga tepat dan berkelanjutan.
Melalui kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat, Lumajang menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan dapat dilakukan secara lebih efektif dengan fokus pada pemulihan sistem ekologis, bukan sekadar penanaman simbolik. Pendekatan ini sekaligus menjadi fondasi dalam memperkuat ketahanan lingkungan dan menjaga keberlanjutan sumber daya alam di masa depan.(Editor MJ)

0 Response to "Lumajang Perkuat Konservasi Berbasis Ekosistem untuk Pulihkan Lahan Kritis"
Posting Komentar