Di Lereng Semeru, Harmoni Itu Dirawat dengan Doa



Lumajang,monitorjatim.com-Matahari baru saja menyembul di balik punggung Gunung Semeru ketika pelataran Pura Mandara Giri Semeru Agung mulai dipenuhi langkah-langkah yang datang dari berbagai penjuru. Di antara udara pegunungan yang sejuk, ribuan umat Hindu mengenakan busana adat serba putih berjalan perlahan membawa canang sari, bunga, dan doa-doa terbaik yang mereka persembahkan kepada Sang Pencipta.

Suara kidung suci mengalun lembut, berpadu dengan denting genta yang sesekali memecah keheningan pagi. Asap dupa perlahan naik ke angkasa, seolah menyampaikan rasa syukur manusia kepada semesta yang selama ini menjaga kehidupan di lereng gunung tertinggi di Pulau Jawa.

Di tempat itu, waktu seakan berjalan lebih lambat. Orang-orang tidak datang untuk mengejar sesuatu. Mereka datang untuk mengingat. Mengingat asal kehidupan, mengingat pentingnya bersyukur, dan mengingat bahwa manusia hanya akan menemukan ketenteraman ketika mampu hidup selaras dengan Tuhan, sesama, dan alam.

Pemandangan itu kembali terlihat dalam rangkaian Piodalan Pura Mandara Giri Semeru Agung yang berlangsung sejak 29 Mei hingga 10 Juli 2026. Ribuan umat Hindu dari Bali, Lumajang, Malang, Probolinggo, Pasuruan, Jember, Banyuwangi, hingga berbagai daerah lain di Jawa Timur memadati pura yang berdiri megah di Desa Senduro, Kecamatan Senduro.

Bagi masyarakat Hindu, Piodalan merupakan peringatan hari jadi pura. Namun di Pura Mandara Giri Semeru Agung, yang berdiri sejak 1992, makna itu berkembang jauh lebih luas. Piodalan telah menjadi ruang tempat spiritualitas, budaya, persaudaraan, dan kehidupan sosial bertemu dalam harmoni yang terus dijaga lintas generasi.

Rangkaian upacara dimulai dengan Matur Piuning, dilanjutkan Melasti, kemudian memasuki puncak karya melalui prosesi Tawur Panca Wali Krama, sebelum ditutup pada 10 Juli mendatang. Setiap tahapan memiliki makna penyucian, keseimbangan, serta ungkapan syukur atas berkah yang dianugerahkan Tuhan kepada seluruh makhluk.

Di balik kemegahan prosesi itu, sesungguhnya terdapat sebuah filosofi yang telah lama hidup dalam ajaran Hindu, yakni Tri Hita Karana. Sebuah pandangan hidup yang mengajarkan bahwa kebahagiaan hanya dapat tercapai apabila manusia mampu menjaga hubungan yang harmonis dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan alam.

Di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar kemajuan, ajaran itu terasa semakin relevan. Alam yang rusak, hubungan sosial yang renggang, hingga menguatnya sikap saling curiga menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak cukup hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi. Ia juga membutuhkan keseimbangan nilai-nilai kemanusiaan.

Pengurus Harian Pura Mandara Giri Semeru Agung, Wira Dharma, mengatakan Piodalan merupakan ungkapan rasa syukur atas segala anugerah yang diberikan Tuhan melalui alam semesta.

"Ini merupakan wujud dari rasa syukur kami terhadap alam semesta yang telah memberikan berkah kepada kita semua," ujarnya.

Menurut Wira, Piodalan dilaksanakan dalam tiga tingkatan, yakni setiap satu tahun, lima tahun, dan sepuluh tahun. Masing-masing memiliki tata upacara yang berbeda sebagai bentuk pelestarian tradisi yang diwariskan para leluhur.

Namun bagi Wira, warisan terbesar dari Piodalan bukanlah megahnya prosesi ataupun banyaknya umat yang hadir. Warisan sesungguhnya adalah semangat hidup berdampingan yang telah lama tumbuh di Lumajang.

"Ini bentuk keberagaman agama yang saling berdampingan," katanya.

Kalimat sederhana itu menggambarkan wajah Senduro yang sesungguhnya. Di kawasan kaki Semeru, masyarakat dari berbagai latar belakang hidup dalam suasana yang saling menghormati. Ketika umat Hindu melaksanakan upacara, masyarakat sekitar ikut menjaga keamanan, membantu kelancaran lalu lintas, membuka ruang bagi para tamu, dan menyambut mereka sebagai bagian dari keluarga besar Lumajang.

Kerukunan di tempat ini tidak lahir karena semua orang memiliki keyakinan yang sama. Sebaliknya, ia tumbuh karena masyarakat memilih menghormati perbedaan sebagai kekuatan bersama. Harmoni tidak dibangun melalui pidato, tetapi melalui tindakan-tindakan kecil yang dilakukan setiap hari.

Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi bangsa, mulai dari polarisasi sosial hingga menguatnya sikap intoleran di sejumlah tempat, Senduro menghadirkan pelajaran yang sederhana namun bermakna. Bahwa keberagaman bukan ancaman apabila setiap orang memiliki kesediaan untuk saling memberi ruang.

Piodalan juga menghadirkan manfaat yang dirasakan langsung masyarakat. Selama rangkaian kegiatan berlangsung, ribuan umat yang datang menghidupkan denyut ekonomi desa. Warung makan dipenuhi pengunjung, penginapan ramai dipesan, pedagang bunga, perlengkapan sembahyang, hingga pelaku UMKM memperoleh tambahan penghasilan.

"Juga mengangkat ekonomi warga sekitar yang memang masih rendah," jelas Wira.

Di sinilah tradisi menunjukkan makna yang lebih luas. Ia bukan hanya menjaga nilai-nilai spiritual, tetapi juga menghidupkan ekonomi masyarakat. Budaya yang dirawat dengan baik mampu menjadi sumber kesejahteraan tanpa kehilangan nilai sakralnya.

Lebih dari itu, Pura Mandara Giri Semeru Agung telah menjadi salah satu ruang perjumpaan budaya di Jawa Timur. Umat Hindu Bali, Jawa, dan Tengger berkumpul dalam satu pelataran, membawa tradisi masing-masing, namun dipersatukan oleh tujuan yang sama, yakni bersyukur atas kehidupan.

Di tengah arus modernisasi, pemandangan seperti ini menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak harus menghapus akar budaya. Justru dari tradisi yang dirawat, masyarakat belajar menghargai sejarah, memperkuat identitas, dan menjaga keseimbangan dengan alam.

Ketika senja mulai turun di lereng Semeru, satu per satu umat meninggalkan pelataran pura. Asap dupa telah lama hilang diterbangkan angin gunung, kidung suci perlahan berhenti mengalun, dan halaman pura kembali tenang.

Namun ada sesuatu yang tetap tinggal di Senduro. Bukan jejak ribuan langkah peziarah, melainkan pesan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi: bahwa kerukunan tidak lahir dari kesamaan, tetapi dari kesediaan untuk saling menghormati.

Di kaki Gunung Semeru, pelajaran itu telah hidup jauh sebelum istilah moderasi beragama dikenal luas. Ia tumbuh dalam doa-doa yang dipanjatkan dengan tulus, dalam tangan-tangan yang saling membantu, dan dalam masyarakat yang memilih menjaga harmoni sebagai jalan hidup bersama.

Mungkin itulah makna terbesar Piodalan. Bukan hanya tentang bagaimana manusia beribadah kepada Tuhan, melainkan bagaimana nilai-nilai spiritual diterjemahkan menjadi kepedulian terhadap sesama, penghormatan kepada alam, dan harapan agar keberagaman Indonesia tetap tumbuh dalam damai.

Dan selama kidung suci masih berkumandang di lereng Semeru, selama dupa masih mengepul di pelataran Pura Mandara Giri Semeru Agung, selama masyarakat terus merawat rasa hormat kepada perbedaan, Lumajang akan selalu memiliki satu cara sederhana untuk mengajarkan Indonesia tentang arti harmoni.(Editor MJ)

0 Response to "Di Lereng Semeru, Harmoni Itu Dirawat dengan Doa"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel