Menghapus Stigma Usia: Selantang Dorong Lansia Tetap Produktif dan Bermartabat

 


Lumajang,monitorjatim.com-Pergeseran cara pandang terhadap layanan kesehatan masyarakat mulai menemukan bentuk nyatanya. Posyandu yang selama ini identik dengan pelayanan berbasis wilayah administratif kini bertransformasi menjadi ruang pemberdayaan yang lebih inklusif, menjangkau komunitas dengan potensi sosial yang kuat. Salah satunya adalah Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kecamatan Pasirian yang bersiap menjadi motor penggerak Sekolah Lansia Tangguh (Selantang).

Sosialisasi program Selantang yang digelar pada Selasa (31/3/2026) di Gedung PWRI Pasirian menjadi penanda awal komitmen tersebut. Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pengurus dan anggota PWRI, serta unsur pemerintah kecamatan yang melihat lansia sebagai aset sosial yang strategis, bukan sekadar kelompok rentan.

Camat Pasirian, Adma Teguh Pambudi, dalam sambutannya menegaskan bahwa lansia memiliki posisi penting dalam struktur sosial masyarakat. Menurutnya, usia bukanlah batas untuk berhenti berkontribusi, melainkan fase untuk memperkuat peran sebagai penjaga nilai dan pengetahuan lintas generasi.

“Penuaan bukan alasan untuk menghilangkan otonomi para lansia. Memberikan ruang partisipasi adalah bentuk pemenuhan hak asasi mereka,” tegasnya, menekankan pentingnya pendekatan yang lebih manusiawi dan berkeadilan dalam pembangunan.

Gagasan tersebut selaras dengan semangat Selantang yang tidak sekadar menghadirkan kegiatan edukatif, tetapi juga membangun ekosistem pembelajaran sepanjang hayat. Program ini dirancang sebagai ruang terapi sekaligus pemberdayaan yang menyentuh berbagai aspek kehidupan lansia secara holistik.

Koordinator Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) Kecamatan Pasirian, Ir. Luluk, menjelaskan bahwa Selantang memiliki pendekatan multidimensi. Mulai dari peningkatan kesehatan fisik, penguatan kapasitas intelektual, hingga pemberdayaan ekonomi dan spiritual menjadi bagian integral dalam kurikulum yang diterapkan.

“Selantang bertujuan mewujudkan lansia yang sehat, mandiri, dan tetap aktif. Ini menjadi penting seiring meningkatnya angka harapan hidup masyarakat Indonesia yang kini mencapai 76,41 tahun,” ujarnya.

Angka tersebut menjadi indikator bahwa Indonesia tengah memasuki fase bonus demografi kedua, di mana populasi lansia meningkat signifikan. Kondisi ini menuntut kesiapan sistem sosial untuk tidak hanya merawat, tetapi juga memberdayakan kelompok usia lanjut agar tetap produktif dan bermakna.

Dukungan terhadap program ini juga datang dari Pemerintah Desa Pasirian yang mengalokasikan pendanaan sebagai bentuk investasi sosial jangka panjang. Langkah ini menunjukkan bahwa pembangunan manusia tidak berhenti pada usia produktif, melainkan berlanjut hingga fase lansia dengan pendekatan yang adaptif dan berkelanjutan.

Lebih dari sekadar program, Selantang diharapkan menjadi gerakan sosial yang mampu mengubah stigma terhadap lansia. Dari yang semula dipandang sebagai kelompok pasif, menjadi subjek pembangunan yang aktif, berdaya, dan inspiratif.

Ke depan, PWRI Pasirian tidak hanya berfungsi sebagai wadah silaturahmi, tetapi juga bertransformasi menjadi pusat pembelajaran komunitas. Di dalamnya, pengalaman hidup para lansia akan dirawat, ditransformasikan, dan diwariskan sebagai nilai kearifan lokal yang memperkaya karakter generasi muda.

Dengan semangat gotong royong dan dukungan lintas sektor, Selantang di Pasirian menjadi contoh bahwa pembangunan yang inklusif adalah pembangunan yang memberi ruang bagi semua usia untuk tumbuh, berkontribusi, dan tetap bermartabat.(Bud)

0 Response to "Menghapus Stigma Usia: Selantang Dorong Lansia Tetap Produktif dan Bermartabat"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel