Pundungsari Lumajang, Sentra Pisang Emas Kirana yang Hadapi Penurunan Harga
Lumajang,monitorjatim.com- Desa Pundungsari 12/11/2025, Kecamatan Tempursari, Kabupaten Lumajang, dikenal sebagai salah satu sentra penghasil Pisang Emas Kirana berkualitas. Setiap minggunya, puluhan truk pengangkut hasil panen dari Dusun Sukosari dan sekitarnya berangkat menuju kota-kota besar seperti Surabaya, Malang, dan Jakarta.
Selain Pisang Emas Kirana, masyarakat desa ini juga membudidayakan Pisang Ambon dan Pisang Candi, menjadikan Pundungsari sebagai salah satu daerah dengan produksi pisang terbesar di wilayah utara Lumajang. Berdasarkan data Pemerintah Desa, luas lahan pisang di Pundungsari mencapai sekitar 50 hektare, dengan produksi rata-rata 3 ton per minggu.
Meski memiliki produktivitas tinggi, para petani di Pundungsari kini menghadapi tantangan serius berupa turunnya harga jual. Harga Pisang Emas Kirana grade A di tingkat petani saat ini hanya sekitar Rp4.000 per kilogram, jauh di bawah harga normal yang sebelumnya bisa mencapai Rp8.000 per kilogram.
“Tadi pagi saya menjual pisang emas di harga empat ribu rupiah per kilogram. Padahal dulu bisa sampai delapan ribu. Ini membuat kami harus berpikir keras untuk menutupi biaya operasional,” ujar Abdul Rohman, Sekretaris Desa Pundungsari yang juga merupakan petani pisang, Rabu (12/11/2025).
Penurunan harga tersebut dirasakan tidak hanya di Pundungsari, tetapi juga di sejumlah wilayah penghasil pisang lainnya di Lumajang. Melemahnya daya beli dan terbatasnya jalur distribusi membuat hasil panen petani terpaksa dijual kepada tengkulak dengan harga rendah.
Kondisi ini menyoroti pentingnya peran pemerintah dalam memperluas akses pasar dan memperkuat branding Pisang Emas Kirana sebagai komoditas unggulan Lumajang. Masyarakat berharap adanya dukungan promosi dan stabilisasi harga agar para petani bisa memperoleh hasil yang lebih menguntungkan.
“Pundungsari punya potensi besar. Kami akan bantu fasilitasi promosi dan mempertemukan kelompok tani dengan pembeli dari luar daerah. Harapannya, harga bisa lebih stabil dan petani memperoleh nilai jual yang layak,” ungkap Ahmad Fauzi, Kepala Seksi Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Lumajang.
Fauzi menambahkan, Dinas Pertanian juga tengah memetakan potensi sentra pisang di beberapa desa untuk mendorong kolaborasi antar-kelompok tani, sehingga produksi dan distribusi bisa dikelola lebih efisien dan berkelanjutan.
Warga berharap, dengan adanya perhatian dan dukungan dari pemerintah daerah, Desa Pundungsari dapat dikenal lebih luas sebagai salah satu penghasil Pisang Emas Kirana terbaik di Lumajang. Penguatan identitas desa sebagai sentra pisang diharapkan dapat membuka peluang promosi dan investasi baru di sektor pertanian lokal.
“Kami ingin Pundungsari juga dikenal seperti Senduro atau Ranuyoso sebagai daerah penghasil pisang. Kalau potensi ini dikembangkan, kami yakin kesejahteraan petani akan meningkat,” pungkas Abdul Rohman.
Pemerintah Kabupaten Lumajang melalui Dinas Pertanian berkomitmen untuk terus mendorong pengembangan sentra Pisang Emas Kirana di desa-desa potensial, termasuk Pundungsari. Upaya tersebut meliputi peningkatan kapasitas petani, promosi produk unggulan melalui pameran dan platform digital, serta pembinaan kemitraan dengan pelaku usaha.
Dengan dukungan berbagai pihak, diharapkan Pisang Emas Kirana tidak hanya menjadi komoditas unggulan, tetapi juga simbol keberhasilan sektor pertanian Lumajang dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.(Bud)

0 Response to "Pundungsari Lumajang, Sentra Pisang Emas Kirana yang Hadapi Penurunan Harga "
Posting Komentar